Hari ke-24: Banda Aceh dan Jakarta

Tour de Sumatera Hari ke-24
8 Juli 2017

Pagi pagi saya bersiap untuk pulang ke Jakarta,lalu saya menuju ke Masjid Baiturrahman untuk sholat subuh dan mengambil foto. Sepulang dsri masjid,saya bersiap dan ngobrol dengan salah seorang peserta touring dari Siantar yg juga tamu di penginapan.

Setelah itu sambil menunggu Pak Nur,tukang labi labi yg mengantar saya dari terminal ke Banda Aceh,saya sarapan di warung seberang penginapan.Saya makan kue dan kopi,lalu saya lanjutkan ke menu nasi gurih dg lauk ayam dan telur seharga Rp 16.000.

Setelah Pak Nur tiba dan minum teh,kami berangkat menuju bandara,di perjalanan sempat mengambil foto kuburan massal korban tsunami. Perjalanan dari penginapan menuju bandara sekitar 30 menit dengan ongkos Rp 60.000. Saya pun check in dan menunggu pesawat Batik Air take off yang jadwalnya jam 08.45. Pesawat berangkat jam 09.00 dan sampai di Bandara Halim sekitar jam 12.00. Perjalanan yg membutuhkan fisik prima karena mengunjungi 16 kota di 7 propinsi dalam 24 hari saja.
Lelah tapi menyenangkan dan akan jadi kenangan indah...

Hari ke-23: Banda Aceh

Tour de Sumatera Hari ke-23
7 Juli 2017

Pagi pagi saya berjalan kaki ke pasar di sebelah Masjid Baiturrahman untuk mengambil foto dan sarapan pagi. Setelah mengambil foto,saya makan di sebuah warung dengan menu Nasi Gurih dan kopi. Setelah makan,saya malah asyik ngobrol dengan bapak penjualnya shg saya putuskan nambah sarapan dengan menu aneka kue dan kopi,saya baru tahu ada kue Dimpan yg khas Aceh.

Siangnya setelah balik dari penginapan,saya mengirimkan pesanan kopi Aceh teman teman dan kemudian menuju Museum Tsunami lalu balik ke penginapan. Sekitar jam 15 saya menuju ke Museum Negeri Aceh (Rumoh Aceh) yg berisi berbagai benda budaya khas Aceh. Setelah itu saya mencoba es cendol seharga Rp 7.000 dan naik labi labi menuju situs Tsunami PLTD Apung seharga Rp 15.000. Saya sempet berkenalan dengan Olivier,turis asal Nantes,Perancis. Kami pun bersepakat untuk mencoba kuliner khas Aceh setelah itu.Kami berjalan kaki mencari menu khas Aceh yg belum pernah kami rasakan dan akhirnya kami menemukan sebuah rumah makan yg menjual menu ayam tangkap seharga Rp 70.000 per ekornya yg kita bagi berdua.

Saya pun balik ke penginapan dan membeli Roti Canai. Ketika sampai di penginapan,saya berkenalan dg Pak Amran,saudara dari pemilik guest house,Pak Vikri. Kami ngobrol cukup lama soal GAM,Aceh,Tsunami,makanan khas Aceh,politik,dll.Setelah itu saya mencoba nasi goreng kampung dg lauk ayam goreng seharga Rp 15.000.

Hari ke-22: Kuala Simpang dan Banda Aceh

Tour de Sumatera Hari ke-22
6 Juli 2017

Setelah puas nongkrong,saya dan Fauzi balik ke rumah mertua Fauzi untuk mengambil barang dan menuju lokasi tunggu bis dekat jembatan Kuala Simpang di tengah malam yg lagi dalam kondisi hujan . Kondisi di lokasi tempat menunggu bis di luar dugaan kami,banyak orang yg juga antri menunggu,ternyata hari itu bis menuju Banda Aceh banyak yg penuh.Setelah menunggu bis skt 2,5 jam,akhirnya saya dapat juga tapi dapat bangku tempel,artinya duduk bukan di kursi resmi bis,tapi di belakang dkt toilet,demi bisa ke banda aceh pagi hari,saya pun ambil kesempatan itu.Saya diantar oleh bis Royal dg harga Rp 170.000,udh termasuk jasa makelar yg mencarikan bis utk saya.

Perjalanan Kuala Simpang-Banda Aceh ternyata memerlukan waktu sekitar 11 jam. Begitu sampai Terminal bis,saya baru tahu kalo tidak ada angkot dari terminal yg berlokasi di Aceh Besar ke Banda Aceh shg harus menggunakan labi labi,kendaraan semacam ojek,setelah tawar menawar disepakati harganya Rp 25.000. Saya menuju ke wisma di area kodam Iskandar Muda sesuai petunjuk Mayor Roni,temsn seangkot ketika SMP,saya masih was was dg keamanan Banda Aceh soalnya,sudah ada 5 orang yang mengingatkan untuk berhati hati selama di kota ini atau bahkan membatalkan rencana untuk mengun jungi kota ini.Namun sebelum itu,saya mampir ke sebuah warung untuk mempelajari situasi dan menentukan lokasi untuk menginap. Akhirnya saya putuskan melihat lihat toko kopi aceh dulu yg lokasinya di sebelah warung.

Lalu saya berjalan menuju Wisma Gajah Putih yg berada di dalam Kodam Iskandar Muda,tetapi harga sewanya Rp 350.000 per malam,ini di luar budget saya. Lalu saya lanjutkan perjalanan ke alamat Crystall Guest House dengan menggunakan labi labi dg ongkos Rp 15.000 dan akhirnya ketemu. Kondisinya cukup lah untuk saya dan ratenya murah cuma Rp 130.000 per malam dg fasilitas 2 bed,bantal,selimut dan kipas angin.

Setelah sejenak beristirahat saya balik lagi ke toko oleh oleh khas Aceh untuk membeli kopi pesanan teman teman.Setelah itu saya mencoba sate matang seharga Rp 40.000,kerang rebus seharga Rp 15.000 dan Mie Aceh seharga Rp 15.000.Setelah itu saya mencari daun temuru di pasar sebelah Masjid Baiturrahman. Sebelum masuk ke penginapan,saya membeli roti Canai dan jeruk 1 kg.

Hari ke-21: Medan dan Kuala Simpang

Tour de Sumatera Hari ke-21
5 Juli 2017

Pagi ini saya fokus mencari kopi khas sumut yg ternyata ada beberapa jenis yakni diantaranya Sidikalang,Samosir,Ateng,itu pun ada yg arabica dan robusta. Saya berjalan kaki menuju ke pasar sentral mencari toko yg menjual kopi,akhirnya saya menemukan sebuah toko kelontong yg menjual kopi Sidikalang Robusta seharga Rp 60.000 per kg,lalu saya lanjutkan pencarian dan menemukan sebuah toko yg khusus hanya menjual kopi merk Djangkar,saya membeli Sidikalang Arabica seharga Rp 50.000 per kg. Lalu saya kembali ke penginapan untuk beristirahat dan mengirimkan gambar kopi tsb ke teman yg memesan kopi Sumut.

Setelah cukup beristirahat,saya balik ke pasar untuk membeli pesanan teman,tapi ternyata toko kopi Djangkar sedang tutup,saya pun mencari alternatif dan mendapatkan toko kopi Naga Sangihe dg harga Rp 70.000 per 500 gram.Setelah itu saya menuju TIKI terdekat untuk mengirimkan pesanan teman.

Setelah beres mengirimkan pesanan teman,saya pun bersiap untuk menuju Kuala Simpang-Aceh untuk bertemu Fauzi,temen kuliah.Saya naik angkot 64 dg ongkos Rp 5.000 menuju jalan Taman Gajah Mada untuk mencari travel menuju Kuala Simpang,tetapi mobil sudah berangkat,maka saya menuju loket bis Kurnia,dan biaya menuju Kuala Simpang ternyata Rp 60.000 dan berangkat jam 15.30.
Perjalanan Medan-Kuala Simpang ternyata membutuhkan waktu 4,5 jam. Saya berhenti di restaurant Simangala skt jam 20.00 dan janjian ketemu dg Fauzi di Masjid Pahlawan. Setelah itu saya menuju ke rumah mertua Fauzi dan dijamu makan malam yg super enak.Setelah itu saya dan Fauzi nongkrong di warkop sampai jam 23.30,saya memutuskan untuk membatalkan rencana kunjungan ke Gayo dan langsung ke Banda Aceh malam itu juga.

Hari ke-20: Samosir dan Medan

Tour de Sumatera Hari ke-20
4 Juli 2017

Jam 6 pagi saya bersiap mengejar kapal rute Tuk Tuk-Tiga Raja (Parapat) guna mendapatkan jadwal paling pagi jam 6.45. Setelah sampai Tiga Raja,saya segera mencari angkot ke Aji Bata dg ongkos Rp 5.000 untuk mengejar bis Sejahtera jurusan Parapat-Medan yg ternyata jadwalnya jam 8.00 dg ongkos Rp 40.000.
Perjalanan Parapat-Medan ternyata memerlukan waktu 5,5 jam.Setelah sampai di Terminal Amplas Medan,saya mampir di sebuah warung untuk makan dan bertanya cara mencapai lokasi Residence Hotel yg ternyata letaknya di sebelah Masjid Raya.Untuk mencai hotel,naik angkot 06 warna kuning dg ongkos Rp 5.000,trus tinggal jalan kaki skt  100 m.

Biaya menginapnya cukup murah,hanya Rp 80.000 per malam.Setelah puas beristirahat,saya menuju ke Istana Maimun yg tak jauh dr penginapan,lalu naik angkot 64 menuju jalan Wahid Hasyim untuk mencoba Durian Ucok.
Ternyata sore itu Medan hujan,saya menunggu hujan reda sambil menikmati mie aceh dan segelas kopi Ulee Kareung sachet.

Hari ke-19: Samosir dan Tele

Tour de Sumatera Hari ke-19
3 Juli 2017


Saya putuskan untuk memperpanjang sehari untuk tinggal di Samosir,saya merasa sangat kerasan di pulau ini,takjub dengan keindahan alamnya,kekayaan budayanya dan keramahan orang orangnya.
Hari ini saya putuskan untuk lebih mengeksplore pulau ini dengan pergi ke ibukota Kabupaten Samosir yakni Pangururan,ke museum batak di Simanindo, melihat panorama Danau Toba di Menara Sudut Pandang di Tele,dan ke Tomok.

Tujuan pertama adalah museum Huta Bolon di Simanindo,saya membayar Rp 10.000 untuk tiket masuknya,kalo saya mau menunggu 2 jam lagi yakni jam 10.30 akan ada atraksi tarian tor tor dengan tiket Rp 50.000. Museum berisi foto,barang barang khas batak tempo doloe,rumah adat,dan sebuah tongkat di antara rumah rumah adat yg mungkin untuk upacara adat.
Setelah itu saya menuju Pangururan,kira kira sejam perjalanan dari Simanindo.Setelah sampai pusat kotanya,saya putuskan mampir ke sebuah rumah makan khusus Ikan Nila Bakar khas Samosir yg ternyata enakkkk sekali.Harga satu porsinya juga tidak mahal yakni Rp 22.000 dengan sambal ijo khasnya. Saya bertanya kepada bapak penjualnya dimana arah ke Tele,ternyata sekitar 42 km lagi di atas Pangururan.
Setelah makan,saya menuju Tele,perjalanan yg menyenangkan karena di sepanjang perjalanan disuguhi panorama indah Danau Toba dan Pulau Samosir.Saya berhenti beberapa kali untuk mengambil foto dari sudut pandang yg berbeda hingga mencapai Menara Tele.
Sepulang dari Tele,saya kembali ke rumah makan Ikan Bakar Nilauntuk  makan 2 porsi ikan bakar nila ini lagi sekalian mencoba minuman soda cap badak khas Siantar yg lebih enak drpd Coca Cola menurut saya.
Setelah puas makan ikan bakar,saya kembali ke Tuk Tuk,sambil mngambil foto foto bangunan menarik di sepanjang perjalanan yg biasanya berupa makam dan rumah tinggal.
Setelah sampai di penginapan Bagus Bay Tuk Tuk,saya beristirahat sekitar 1 jam sekalian membayar penginapan untuk sehari ke depan.
Setelah kembali segar,saya menuju Tomok,mencari Makam Tua Sidabutar dan Makam di Atas Pohon sambil mengambil foto kondisi Tomok dan pelabuhannya.

Danau Toba yang Indah

Danau Toba dan Pulau Samosir

Danau Toba yang Indah

Pertama kali saya mendengar nama Tele ketika ngobrol dengan tamu dari Medan ketika menginap di Wisma Imanuel Kota Padang. Tele adalah daerah dimana kita bisa melihat pemandangan Danau Toba dan Pulau Samosir dari ketinggian sehingga terlihat lebih indah dan komprehensif. Tele juga merupakan jalur penghubung Pulau Samosir ke Medan namun dengan rute perbukitan dan biasanya lebih lama dari rute Parapat-Medan. Kemarin saya kembali mendengar nama ini dari Fian,teman SMP saya juga barusan dari sana,pun dengan Agni,teman SMP, Sang master jalan jalan yang juga menyarankan hal serupa,tapi saya enggan mengambil rute ke medan melalui daerah ini,lagian ketika naik kendaraan umum ke medan,tidak mungkin juga berhenti di Tele untuk mengambil foto kan :)

Pulau Samosir

Danau Toba

Setelah memutar otak,akhirnya saya menyewa motor untuk menuju Tele pagi ini,sekitar 2 jam perjalanan dari Tuk Tuk,perjalanan yang menyenangkan walau jauh.
Saya menerapkan tips Ruri,teman SMP saya ketika dia harus berjalan sekitar 30 menit untuk mencari sudut pandang sebuah pantai di Malang Selatan,sebuah tips ampuh karena sebelumnya saya tidak tahu bagaimana menikmati wisata pemandangan alam.
Tips dari Ruri ini ternyata paten,saya berhenti beberapa kali ketika menemukan sudut pandang Danau Toba dan Samosir yang indah,kegiatan seperti ini ternyata sangat menyenangkan.
Menara Tele
Danau Toba dilihat dari Menara Tele

Pulau Samosir dilihat dari Menara Tele

Hari ke-18: Siantar, Parapat, Samosir

Tour de Sumatera Hari ke-18
2 Juli 2017

Perjalanan Pekanbaru-Siantar dengan menggunakan bis Intra molor karena macet, yang biasanya tiba di Siantar jam 06.00 akhirnya tiba sekitar jam 10.00 di pool bis Intra. Sebelum berangkat ke Parapat,saya ingin beristirahat sebentar dengan mencari tempat sarapan di sekitar pool bis sambil mencari info soal ongkos dan kendaraan yang ke Parapat. Akhirnya saya mencoba Soto Batak yang rasanya enak juga,ada tahu dan tempe di dalamnya. Sambil makan,saya bertanya kepada ibu penjualnya,kendaraan apa yang ke Parapat,ternyata mobilnya bernama "Astra" dengan ongkos Rp 15.000 dan durasi perjalanan 1-2 jam dari Siantar.

Setelah nongkrong di warung selama sekitar 1 jam,saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Parapat dan memakan waktu sekitar 2 jam hingga sampai ke Pelabuhan Ajibata. Saya lalu menuju sebuah warung untuk memesan Ikan Mujair Bakar seharga Rp 25.000 dan bertanya kepada Ibu penjual sebaiknya saya menuju ke mana karena ternyata ada banyak pelabuhan di Samosir,ada Tomok,Tuk Tuk,Nainggolan,dll. Ibu penjual menyarankan ke Tomok karena ini daerah yang banyak dikunjungi turis dan tiket kapalnya murah,hanya Rp 8.000.

Selesai makan,saya putuskan mencari second opinion dengan sedikit riset di warnet dekat pelabuhan,ternyata ada banyak penginapan murah di daerah Tuk Tuk,salah satunya Bagus Bay,saya langsung telepon penginapan ini dan masih ada kamar kosong dengan harga Rp 70.000 saja!
Saya lalu kembali ke warung ibu penjual ikan mujair bakar dan bertanya dimana kapal menuju Tuk Tuk,ternyata tidak ada di Ajibata,tapi adanya di Tiga Raja,agak jauh sehingga lebih enak naik angkot dengan tarif Rp 5.000.

Saya kemudian menuju ke Tiga Raja dan segera naik kapal yang lagi menunggu penumpang dan tiketnya ternyata Rp 15.000. Sambil menunggu kapal berangkat,saya melihat seorang nelayan yang sedang berusaha menangkap ikan mas dan berhasil!
Setelah menunggu selama 30 menit,akhirnya kapal berangkat menuju Tuk Tuk,perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit saja. Kapal ternyata berhenti tak jauh dari Bagus Bay,sehingga saya dengan mudah menuju lokasi penginapan,saya terkejut dengan lokasi penginapan yang sangat strategis,di pinggir danau Toba dengan harga hanya Rp 70.000 saja!

Saya membayar fee penginapan dan masuk ke kamar dan beristirahat selama kurang lebih sejam. Saya kemudian menuju ruang lobi penginapan dan bertanya tentang rute ke Pangururan,pusat kota dari Kabupaten Samosir,ternyata untuk mendapatkan angkot ke sana harus berjalan kaki sekitar 2 km,akhirnya saya cari rutenya dengan berjalan kaki sambil mengambil foto foto menarik selama perjalanan.

Akhirnya saya menemukan lokasi tempat angkot menuju Pangururan lewat dan saya balik ke penginapan,di tengah perjalanan saya menemukan sudut pandang yang indah dari Danau Toba dan memutuskan untuk naik ke sebuah bukit,saya terus naik hingga titik tertentu ada kawanan anjing yang menggonggong dan mengejar saya, sambil berusaha tetap tenang,saya turun ke bawah dan untungnya si anjing berhenti mengejar saya...Alhamdulillah...:)
Saya lanjutkan perjalanan balik ke penginapan dan di tengah jalan menemukan sebuah warung dan saya memesan mie goreng,ternyata harganya tidak mahal,untuk mie goreng double dan telor bulat yang juga double harganya Rp 20.000 saja.


    

Hari ke-17: Pekanbaru dan Perjalanan ke Siantar

Tour de Sumatera Hari ke-17
1 Juli 2017

Saya melakukan jalan pagi dengan menyusuri jalan Kaharudin Nasution dan membeli lontong sayur sbg sarapan. Setelah itu saya kembali ke rumah Agus dan beristirahat karena agak diare akibat kebanyakan makan saus kemarin malamnya.Setelah beristirahat dan saya bombardir dengan obat anti diare,akhirnya membaik di siang harinya. Saya meminjam motor Agus untuk menyusuri jalan jenderal Sudirman,jalan utama di Pekanbaru yg panjangg sekali,saya ikuti jalan tersebut hingga mentok,sambil mengambil foto gedung gedung megah di sepanjang jalan.  Saya juga mendapati adanya Balai Seni Rupa Ali Haji dimana ada anjungan dari tiap kabupaten di Riau,juga ada monumen Kerja sebagai peringatan penderitaan para romusha yang membangun rel kereta api Sijunjung-Pekanbaru sejauh 220 km pada masa pendudukan Jepang.

Saya sempat makan siang dg menu nasi goreng di warung Indomie yg khas Riau dimana lokasinya biasanya luas dan terdapat TV layar lebarnya.Menu warmindo di Riau juga beda,ada nasi goreng,mie goreng,mie nasi goreng,soto juga ada. Lalu saya kembali ke rumah Agus dan beristirahat,agak sore saya kembali ke warmindo yg sama untuk mencoba minas (mie dan nasi goreng).Masing masing menu tersebut seharga Rp 12.000.
Setelah makan siang bersama keluarga Agus,saya pun diantar ke pool bis Intra.Perjalanan Pekanbaru-Pematangsiantar diperkirakan 11 jam,saya berangkat jam 18,jadi sampai di Pematangsiantar akt jam 5 pagi.

Hari ke-16: Kabupaten 50 Kota dan Pekanbaru

Tour de Sumatera Hari ke-16

30 Juni 2017

Seperti biasa pagi hari di Dangung dangung saya gunakan untuk jalan kaki sambil ambil foto foto menarik,setelah itu saya sarapan lontong gulai,3 potong gorengan dan kopi seharga Rp 13.000 di Pasar.  Setelah balik ke rumah Aldri,saya bersiap untuk menuju ke Museum Tan Malaka di daerah Pantai Nagari bersama Aldri. Lokasinya agak di pelosok dan lokasi penunjuk namanya tidak strategis sehingga kami sempat terlewat tapi untungnya tidak jauh. Museum ini tidak ada penjaganya tapi untungnya kami bisa masuk ke lokasi dan ambil foto koleksi museum yg berupa foto kenangan,barang,tempat tidur Tan Malaka ketika muda.Di depan rumah ada 3 makam yakni makam ayah,ibu dan Tan Malaka sendiri yang telah dipindahkan dari kediri pada bulan maret 2017 kemarin.

Sepulang dari museum,saya bersiap untuk  melanjutkan perjalanan ke Pekanbaru,sebelum berangkat kami makan bersama dengan bapak,ibu,dan Aldri sendiri.Saya diantar Aldri hingga ke kota Payakumbuh untuk mencari travel ke Pekanbaru yg ternyata ongkosnya Rp 150.000. Perjalanan Payakumbuh-Pekanbaru ternyata melewati Kelok 9 yg in dah itu,kami berhenti sebanyak 2 kali selama perjalanan.

Setelah perjalanan selama 6 jam,tibalah saya di Pekanbaru dan berhenti di lokasi dimana banyak dijumpai pool bis. Saya mencari info harga,jadwal dan durasi perjalanan Pekanbaru-Parapat untuk esok hari. Saya juga mengontak Agus Ardi,teman SMA,yg tinggal di Pekanbaru,saya akan menginap di rumah dia malam ini. Setelah bertanya sana sini akhirnya saya memutuskan membeli tiket bis Intra menuju Pematang Siantar yg jaraknya tidak jauh dari Parapat,sekitar 1 jam perjalanan,hal ini karena tidak ada bis langsung ke Parapat. Setelah itu saya yg telah dijemput Agus menuju ke rumahnya di daerah kampus Universitas Islam Riau di daerah Jalan Kaharudin Nasution. Setelah beristirahat dan mandi,kami pun menuju ke warung kopi 45 untuk bertemu dg Naufal,teman SMA juga.

Hari ke-15: Bukittinggi dan Kabupaten 50 Kota

Tour de Sumatera Hari ke-15
29 Juni 2017

Jam 6 pagi saya mulai berjalan kaki menuju ke lokasi Jam Gadang lalu saya lanjutkan ke pasar atas,pasr lereng dan pasar bawah Bukittinggi.Setelah itu saya menikmati Soto Padang Haji Minah yg lokasinya di dalam terminal sebelah pasar. Setelah itu saya menuju Ngarai Sianok dengan menggunakan angkot. Saya sungguh takjub dg pemandangan di Ngarai Sianok ini,saya menyusuri sungainya sambil foto dan kemudian menuju ke sebuah warung di pinggir ngarai menikmati kopi dan krupuk sambal khas Minang sambil memandangi kemolekan ngarai,rasanya nikmat sekali...

Perjalanan saya lanjutkan menuju ke Gua Jepang dengan tiket masuk Rp 15.000.Di dalam gua ada jalan dan banyak ruangan untuk barak militer,gudang senjata,tempat romusha,dll. Setelah puas saya keluar gua dan saya mendapati sebuah museum,tampaknya museum milik TNI,koleksi di dalamnya berisi foto foto kegiatan tentara jaman dulu dan barang barang milik ABRI jaman dulu,tiket masuknya Rp 4.000.

Perjalanan saya lanjutkan ke Taman Bung Hatta dan Monumen Pahlawan Tak Dikenal,lalu ke Benteng Fort de Kock,tiket masuk ke benteng ini Rp 15.000,ternyata tiket masuk ini juga tiket masuk ke kebun binatang Bukittinggi. Setelah itu saya menuju Pasa Banto untuk mencari angkot jurusan Kabun Palasan untuk kembali ke rumah Hasan,tempat saya menginap.
Saya beristirahat,mandi dan makan siang sebelum berangkat ke Payakumbuh,rumah Aldri,teman kuliah di ITB juga. Saya diantar oleh adik sepupu Hasan ke Museum Bung Hatta,di dekat
Pasa Banto,tidak dipungut biaya untuk masuk ke rumah Bung Hatta di masa kecilnya ini. Koleksi di dalamnya berupa foto,ruangan,dan furniture keluarga Bung Hatta di masa kecil beliau.
Setelah itu saya menuju ke Terminal Aur Kuning dengan menggunakan angkot merah,setelah sampai saya mencari lokasi mini bus menuju Payakumbuh dan ternyata ongkosnya Rp 20.000 hingga Pasar Dangung Dangung.
Setelah turun di Pasar Dangung Dangung aetelah perjalanan selama 3-4 jam,saya menuju ke rumah makan Inbur yg menjual sate Dangung Dangung asli. Setelah puas menikmati sate,saya dijemput Aldri menuju rumah kediaman ortunya. Ayah Aldri pernah menjadi datuk atau ketua adat di daerah Dangung Dangung ini,beliau pensiunan kepala sekolah.

Hari ke-14: Padang dan Bukittinggi

Tour de Sumatera Hari ke-14
28 Juni 2017

Jam 7 pagi saya bersiap menuju Bukittinggi,dan alhamdulillah sempet ngobrol dengan tamu penginapan dari Medan,ketika sarapan,shg bisa banyak nanya soal Sumatera Utara. Setelah itu saya menuju Taman Diponegoro untuk naik angkot orange menuju Ulo Karang,Pak sopir kasih saran saya untuk naik mobil Tranex aja,ngga berhenti berhenti untuk nyari penumpang. Saya pun turun tak jauh dr lokasi Mall Basco untuk naik tranex dan ternyata ongkosnya Rp 25.000.

Rute Kota Padang-Bukittinggi seharusnya melalui Padangpanjang tapi macetnya luar biasa,maka pak sopir ambil inisiatif utk mengambil rute di Padang Luar,agak jauh tp tidak macet shg bisa nyampe Bukittinggi 2-3 jam saja. Setelah sampai di Terminal Aur Kuning,saya mencoba Kapau Uni Lis/Uni Upik,enak sih tapi mahal,saya makan ayam gulai plus kopi kena Rp 30.000,lalu saya menuju sate khas Bukittinggi yg berkuah hijau,enak juga dan harganya Rp 16.000 per porsi.

Setelah itu saya naik angkot menuju lokasi Rumah Hasan Basri,temen kuliah di ITB,naik angkot ke Pasar Bawah trus lanjut angkot ke arah Kabun Palasan dan turun di Simpang dkt rumah makan Pondok Salero,yg ternyata milik keluarga Hasan.
Setelah sampai di rumah Hasan dan beristirahat sebentar,saya diajak makan makan di acara keluarga besar Hasan.Katanya tradisi lebaran di sana adalah silaturahmi ke bibi dimulai dari yg dituakan dulu di lebaran pertama,trus berlanjut ke bibi yg lain di lebaran kedua dan hari berikutnya. Saya begitu terkesan dengan cara penyajian makanan di acara tersebut yang mirip dengan yg kita jumpai di rumah makan khas Minang. Setelah itu saya balik ke rumah Hasan dan beristirahat,malam harinya kembali makan menu Pondok Salero di tempat bibi Hasan seperti siang harinya,kali ini dengan jumlah keluarga yg lebih banyak.